Artificial Intelligence (AI) Mengurangi Kesalahan Diagnosa Kanker Payudara Hingga 85%

Bulan Oktober telah ditetapkan sebagai Bulan Kesadaran Kanker Payudara di seluruh dunia. Bulan kesadaran ini telah menarik perhatian dari berbagai brands, masyarkat, dan juga komunitas-komunitas tentang kebutuhan diagnose yang lebih dini terhadap kanker payudara. Berdasarkan data Globocan 2018, ada 58.256 kasus kanker payudara yang semuanya didiagnosis pada wanita di Indonesia. Kurangnya pemahaman tentang penyakit ini sendiri telah menyebabkan keterlambatan diagnosa yang mengarah pada kematian. Menurut Departemen Kesehatan di Indonesia, 70% dari semua kasus kanker di Indonesia didiagnosis pada stadium lanjut.

Banyak kanker dimulai dengan perubahan yang sangat kecil sehingga tidak ada orang yang menyadari gejalan-gejalanya.Dari sisi organisasi kesehatan, dengan anggaran terbatas, organisasi kesehatan harus menemukan cara baru untuk meningkatkan efisiensi operasional sambil memenuhi — atau melampaui — standar tertinggi perawatan pasien. Oleh karena itu, teknologi diharapkan dapat memberikan layanan yang lebih baik bagi pasiennya.

Mengembangkan program artificial intelligence (AI) yang dapat dilatih dengan deep learning untuk melihat perubahan paling awal dalam struktur sel yang biasanya berkembang menjadi sel kanker adalah salah satu langkah yang bisa diambil. Program-program ini dapat memperingatkan para ahli onkologi, yang kemudian dapat memandu protokol perawatan pasien dengan akurasi dan efektivitas yang lebih besar. Penilaian risiko kanker payudara yang menggunakan teknologi AI-automated terbukti dapat mengurangi biaya hingga 5% dibandingkan dengan tes genomik saat ini.

Dengan fokus untuk melakukan intervensi awal, perawatan kesehatan preventif, dan transformasi digital, organisasi kesehatan kini semakin meningkatkan adopsi mereka terhadap teknologi medical imaging. Kemajuan dalam teknologi ini, termasuk kemampuan 3D dan 4D, real-time analytics, dan pemrosesan yang dipercepat oleh unit pemrosesan grafis (GPUs), memberi alat yang kuat bagi ahli radiologi untuk membuat diagnosis yang lebih cepat dan lebih akurat serta membantu mencegah ahli radiologi mengalami kelelahan.

Aplikasi AI khusus dapat mendukung ahli radiologi dan mencegah kesulitan dengan “menyusun” tumpukan gambar. Caranya, teknologi AI akan dengan cepat memilah gambar normal dan melakukan flagging bagi gambar-gambar pengecualian. Hasilnya, ahli radiologi dapat menemukan gambar yang menunjukkan anomali atau indikator penyakit lebih cepat dan kemudian fokus untuk mendiagnosa dan memberi saran pengobatan, tanpa harus berlama-lama menyaring gambar. Sebagai contoh, AI memungkinkan hasil MRI untuk mempercepat rekonstruksi gambar hingga 100 kali, dan dengan akurasi 5 kali lebih besar.

“Berdasarkan data NVIDIA, dengan AI, para ahli onkologi akan dapat mengurangi kesalahan diagnosa dalam mendeteksi kanker payudara hingga 85%. Di NetApp, kami percaya bahwa AI dapat menjadi salah satu jawaban untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan, meningkatkan efisiensi, mempercepat proses diagnosa, dan mengurangi biaya. Dari medical imaging hingga pembedahan yang dibantu robot hingga penemuan obat, AI semakin baik dan semakin canggih untuk membantu sektor ini menjadi lebih baik,” kata Ana Sopia, County Manager, NetApp Indonesia.

Potensi kecerdasan buatan untuk perawatan kesehatan:

  • Memungkinkan untuk meninjau ribuan dan jutaan catatan atau gambar dalam waktu yang lebih singkat dan menerapkan kognisi untuk membuka kunci data dalam jumlah besar.
  • Mendukung diagnosa yang berkualitas melalui pelatihan dengan deep learning untuk mendeteksi perubahan seawall mungkin dalam struktur sel yang biasanya berkembang menjadi sel kanker.
  • Mendukung ahli radiologi dan mencegah perkerjaan yang menguras tenaga dengan “menentukan” jumlah gambar yang berlebihan, dengan cepat memilah gambar normal dan menandai pengecualian.

Baik digunakan untuk memperkuat medical imaging atau pengurutan genom, keberhasilan AI sepenuhnya bergantung pada akses ke sejumlah besar data yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola, mengembangkan wawasan prediktif, dan memungkinkan sistem otonom yang semakin akurat. Namun, data ini dapat berada di mana saja, secara inheren dinamis, dan seringkali dalam berbagai bentuk. Menurut para pemimpin di industri TI, membuat pengelompokan data dan kompleksitas teknologi menjadi dua tantangan terbesar untuk memindahkan membuat proyek AI menjadi produksi. Oleh karena itu, dengan data fabrics, organisasi akan dapat mengakses data mereka di mana saja dengan kontrol, menghasilkan dampak bisnis yang lebih baik, dalam hal ini diagnosis dan keputusan yang lebih baik.

“Bersama dengan mitra kami, NVIDIA, cloud-connected all-flash storage dari NetApp akan menyederhanakan, mempercepat, dan mengintegrasikan data di pipeline untuk AI dan deep learning untuk membangun solusi kesehatan berbasis AI yang cerdas, kuat, dan tepercaya. Dengan strategi Data Fabric kami, kami mengintegrasikan struktur data dan merampingkan aliran data melalui semua tahapan, dari edge, cloud, hingga core. Dengan solusi NetApp untuk AI, anda dapat dengan percaya diri memanfaatkan sumber data yang terus bertambah dengan skalabilitas dan kinerja yang hampir tidak terbatas, ”tutup Ana Sopia.

Bagikan Berita :