Nia Dinata Mencari Penulis Skenario Baru

Sutradara film Nia Dinatadan Lucky Kuswandi menjadi mentor lima orang terpilih sebagai penulis naskah drama seri SWITCH. “Original storynya created by aku sama Lucky Kuswandi. Kita create big plot sampe episode 5, nah sisanya yang buat pemenang tadi, kita kasih workshop,” sambungnya.

SWITCHmerupakan drama seri komedi romantis yang ditayangkan oleh Viu (sebuah layanan video-on-demand), yang mengusung Nia dan Lucky sebagai sutradara.

“Aku sama Lucky mentorin penulis yang terpilih jadi penulis naskah untuk drama seri ini, mereka ngirim naskah, kita pilih pemenangnya,” ungkap Nia saat ditemui di Plaza Kuningan, Jakarta Pusat, Rabu (14/6/2017).

Bagi ibu dua anak ini, memproduksi sebuah proyek yang dikerjakan bersama orang-orang baru merupakan pengalaman yang menarik.

“Ternyata prosesnya menarik sekali, biasa nulis skrip dengan orang yang kita kenal, ini kan aku dan Lucky enggak kenal mereka, dan mereka enggak kenal satu sama lain,” ungkap Nia.

Nia Dinata sangat menikmati proses ini. Kerja kolaborasi Nia Dinata dan Lucky Kuswandi dengan para pemenang sangat menyenangkan. “Dari yang malu-malu melontarkan ide terus jadi kayak keluarga. The whole 8 days itu menarik sekali, intensif banget, sampe akhirnya jadi 13 episode,” sambungnya.

Meski demikian Nia menambahkan, bahwa kelima pemenang itu dituntut untuk bisa berkreasi dengan titik konflik cerita yang telah dirinya buat bersama Lucky.

“Jadi tantangannya bukan nyatuin kepala sih tapi justru mengingatkan mereka, kembalikan mereka ke pakem yang aku sama Lucky bikin, jadi kita harus selalu ngingetin mereka,” tambahnya.

Nia sangat tertarik dengan program ini karena dari program ini memungkinan penulis-penulis baru akan muncul. Nia juga mengungkapkan bahwa masih minimnya para penulis skenario handal di dunia perfilman Tanah Air. Banyak sineas pemula yang enggan menjadi penulis skenario, padahal proses pembuatan film itu yang paling susah adalah membuat script.

“ Menulis script itu proses yang sangat internal. Kalau kita sangat percaya sama kualitas, proses, ya kita harus mau melewatkan proses itu,”ucapnya. Selain itu, Nia mengungkapkan sumber referensi yang statis didapatkan oleh orang-orang yang berminat menjadi penulis skenario.

Perbedaan itu didapatkan oleh orang yang tinggal di kota dengan sumber informasi mumpuni, dan di pedaerahan dengan akses terbatas.

“Orang Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Makassar mungkin masih berpotensi ya. Tapi, orang-orang di luar itu mungkin hanya bisa terpaku menonton dari televisi. Jadi mereka hanya bisa menulis sesuai dengan, mungkin FTV standar, sinetron standar,” ujar dia menutup wawancaranya.

Bagikan Berita :