Pengalaman Perekrutan Dibutuhkan untuk Memilih Kandidat Karyawan Baru

Meskipun teknologi dalam industri perekrutan SDM semakin meningkat, para perekrut dan kandidat karyawan sepakat bahwa perekrut yang tanggap dan berwawasan luas sangat penting untuk menciptakan pengalaman yang positif bagi kandidat karyawan dan menemukan kandidat terbaik untuk pekerjaan tersebutHal tersebut diungkapkan dalam dua survei global terbaru yang dilakukan oleh Korn Ferry – satu survei terhadap para kandidat karyawan dan satu lagi survei terhadap para profesional industri perekrutan SDM.

Survei tersebut menemukan bahwa 90 persen kandidat karyawan dan 80 persen perekrut mengatakan bahwa sangat penting bahwa kandidat menyukai perekrut yang bekerja sama dengan mereka.

Bernadette ThemasPartner and Executive Search Lead, Korn Ferry Indonesiamengatakan, “Proses perekrutan dan cara wawancara calon kandidat semakin berkembang di Indonesia. Di masa lalu, kandidat harus mengunjungi kantor perekrut untuk tes penyaringan. Sekarang, proses ini dapat dilakukan dengan mudah melalui panggilan telepon, Skype, aplikasi seluler, atau tes online. Evolusi ini berperan penting dalam membantu perekrut menyaring kandidat yang paling cocok untuk pekerjaan tersebut. Selain itu, para kandidat tidak harus mengambil cuti untuk menghadiri wawancara kerja.”

“Meskipun teknologi telah memungkinkan proses perekrutan SDM menjadi lebih efektif dan efisien, interaksi manusia masih diperlukan dalam proses tersebut. Di Korn Ferry Indonesia, kami telah menyiapkan para kandidat dengan informasi tentang pekerjaan/tanggung jawab pekerjaan, perusahaan perekrut, budaya perusahaan dan proses rekrutmen untuk membantu mereka berhasil dalam wawancara mereka, ”tambah Bernadette.

Menurut survei terbaru Korn Ferry, sangalah penting bagi kandidat untuk menyukai perekrut. Terlepas dari teknologi, interaksi positif dengan perekrutlah yang membuat para kandidat memiliki kesan dan pengalaman wawancara kerja yang baik dengan perekrut.

Lebih dari setengah kandidat (53 persen) mengatakan bahwa yang paling sering terjadi adalah ketika perekrut “mendiamkan” kandidat karyawan dan tidak menginformasikan kembali kepada para kandidat mengenai status mereka dalam proses perekrutan.

“Filosofi terbaik adalah memperlakukan kandidat seperti pelanggan perusahaan di mana mereka melamar pekerjaan,” kata Jeanne MacDonald, global co-operating executive and president of global talent solutions untuk bisnis RPO dan Professional Search di Korn Ferry. “Kami ingin setiap bagian dari proses perekrutan berjalan lancar melalui sikap responsif dan memperlakukan setiap kandidat karyawan dengan rasa hormat.”

Ketika ditanya alasan utama mengapa para kandidat mencari pekerjaan baru, para perekrut menemukan jawaban sebagai berikut: kandidat ingin memperoleh jabatan yang lebih baik atau ingin mendapat tanggung jawab lebih merupakan alasan utama kandidat (20 persen), diikuti dengan gaji yang lebih tinggi (19 persen) dan rasa bosan / butuh tantangan baru (16 persen).

Ketika seorang kandidat mencoba untuk memutuskan di antara dua penawaran pekerjaanpara kandidat mengatakan bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan oleh perekrut adalah mendiskusikan dengan kandidat mengapa tawaran tersebut lebih sesuai dengan aspirasi karir mereka (44 persen). Hanya 5 persen yang mengatakan bahwa memberi tawaran gaji yang lebih tinggi kepada kandidat merupakan langkah teratas agar kandidat menerima satu penawaran pekerjaan dibandingkan tawaran lainnya.

Dan ketika harus meyakinkan para kandidat karyawan untuk memilih tawaran pekerjaan, hanya setengah dari kandidat (50 persen) mengatakan bahwa perekrut dapat meyakinkan mereka untuk mengambil pekerjaan jika mereka tidak yakin/ragu-ragu dengan posisi tersebut. Ketika ditanya pertanyaan yang sama, para perekrut, sebaliknya, jauh lebih percaya diri, dengan 83 persen mengatakan mereka dapat meyakinkan para kandidat yang ragu agar mengambil tawaran pekerjaan tersebut.

Bagikan Berita :