Si Manis Patola Dari Banyuwangi Yang Hanya Ada di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan sudah berlalu dan Bulan Ramadahan selalu memiliki kekhasan
yang tak bisa dijumpai di waktu lainnya. Salah satunya adalah munculnya kue-kue
tradisonal atau kuliner unik yang hanya akan Anda temui saar Ramadhan tiba.

Salah satu daerah di Indonesia, yaitu
Banyuwangi juga memiliki kekhasan kuliner selama bulan suci ramadhan.

Namanya adalah Patola. Patola merupakan
kue khas Banyuwangi yang selalu ada di bulan puasa. Bentuk makanan ini mirip mi
yang ikal melingkar. Diameternya tak lebih dari ukuran telapak tangan orang
dewasa. Kue berbahan dasar tepung beras ini umumnya diberi warna merah muda,
hijau, dan putih.

Kue yang mempunyai nama lain putu
mayang ini biasa dinikmati saat berbuka puasa itu disajikan dengan santan yang
bercampur gula merah cair. Saat mengunyahnya, rasa manis gurih berpadu dengan
kelembutan kue berbahan tepung beras.

Para pedagang telah menyiapkan santan
bercampur gula merah cair dalam kemasan berbeda untuk pembeli yang hendak
membawa pulang Patola. Kue dan kuah santan sengaja dipisah agar tidak terlalu
lembek saat disajikan.

Tak ada catatan tertulis kapan Patola
mulai menjadi makanan khas di Banyuwangi saat bulan ramadhan. Mahwah (56 tahun)
adalah seorang pembuat kue Patola asal Dusun Gumukrejo, Desa Gitik, Kecamatan
Rogojampi, mengungkapkan dirinya membuat Patola sudah lebih dari 30 tahun lalu
sejak Beliau berusia 20 tahun.

Mahwah sendiri belajar membuat kue
Patola dari sang ibu yang juga seorang pembuat kue khas ramadhan itu. Tak hanya
menurunkan resep kue, ibunya bahkan mewariskan alat pembuat kue pada Mahwah. “Semua
alat untuk membuat kue Patola saya dapat dari ibu. Masih terjaga dengan baik
hingga kini,” ujarnya.

Menurut Mahwah, cara membuat kue Patola
terbilang sederhana. Tepung beras yang merupakan bahan dasar kue dibuat adonan
dengan campuran air. Adonan itu kemudian dimasukkan ke dalam cetakan khusus
untuk bisa menghasilkan bentuk seperti mi.

Adonan yang sudah masuk ke dalam
cetakan dengan jaring-jaring cukup ditekan hingga keluar dalam bentuk panjang
seperti mi. Setelah itu, mi dari tepung beras itu dibentuk lingkaran sebesar
telapak tangan atau lebih kecil.

“Kalau sudah dicetak, adonan lalu
dimasukkan ke dalam dandang untuk dikukus hingga adonan benar-benar
matang,” tuturnya.

Setiap hari, Mahwah menghabiskan 7
kilogram tepung beras untuk membuat Patola. Kue-kue itu dikemas dalam plastik
bening. Ia menjual sekantong Patola berukuran kecil seharga Rp 4000. Setiap
kantong berisi 10 kue dilengkapi kuah santan. Kue-kue itu dibeli oleh para
penjual yang nantinya menjajakan Patola di berbagai sudut kota Banyuwangi.

Sementara Mbok Kar, seorang penjual kue
Patola yang biasa mangkal di depan kantor PLN Banyuwangi mengaku biasa
berjualan hanya saat bulan puasa. Namun, Mbok Kar sekedar menjual kue yang
dibuat orang lain. “Setiap bulan puasa, Saya selalu menjual kue Patola.
Saya biasanya ambil kue dari orang, tidak membuat sendiri,” katanya.

Randy, seorang pembeli kue Patola
mengatakan dirinya terbiasa membeli kue itu selama bulan ramadhan. Rasa manis
dan lembut kue Patola sangat cocok dinikmati sebagai hidangan pembuka. “Saya
sering membeli kue Patola saat bulan puasa. Kalau berbuka puasa kan disarankan
memakan makanan yang manis sebagai pembuka. Jadi kue Patola adalah salah satu
pilihan yang tepat dan enak menurut saya,” kata Randy.

Menjelang hari raya Idul Fitri seperti
saat ini, kue Patola masih dapat ditemukan di sejumlah penjaja di pinggir jalan
maupun di warung yang menjual aneka jajanan untuk berbuka puasa.

Bagi pembeli seperti Randy, kue Patola
hanya akan disukai keberadaannya pada bulan ramadhan. Randy dan pembeli lainnya
tak khawatir jika Patola tak ada lagi ketika Idul Fitri tiba. Sementara bagi
Mahwah dan Mbok Kar, berakhirnya bulan ramadhan berarti hilangnya sumber
penghasilan mereka.

Mahwah pada hari biasa di luar bulan
ramadhan tetap membuat kue tradisional Banyuwangi, selain Patola tentunya.
Sedangkan Mbok Kar berjualan nasi pecel dan aneka minuman untuk bisa bertahan
hidup

sumber : kompas.com

Bagikan Berita :